208 Orang Diinterogasi di Arab Saudi Terkait Penggelapan Uang h

Sebanyak 208 orang diinterogasi terkait penggelapan uang di Arab Saudi yang mencapai hingga Rp 1.350 triliun lebih. Tujuh orang di antaranya sudah dibebaskan oleh Komite Antikorupsi tanpa dikenakan adanya dakwaan. Hal tersebut terkait kebijakan antikorupsi besar-besaran yang bermula pada Sabtu (4/11) pekan lalu. Demikian informasi tersebut diungkapkan oleh Jaksa Agung Arab Saudi, Syekh al-Mojeb.

baca juga >>> Penjara Mewah bagi Para Pangeran Arab Saudi

Tidak disebutkan mengenai nama-nama yang ditangkap. Namun dilaporkan, penangkapan tersebut mencakup beberapa pangeran, menteri, mantan menteri serta beberapa pengusaha yang memiliki pengaruh.

“Bukti atas kesalahan amat kuat”, demikian hal tersebut ditegaskan Syekh al-Mojeb (BBC.com, 10 November 2017).

Ditegaskan pula oleh Jaksa Agung Arab Saudi bahwa kegiatan komersial di kerajaan tetap berlangsung seperti biasanya. Tidak terpengaruh adanya penangkapan terhadap 199 orang tersebut, hanya pembekuan atas rekening-rekening pribadi.

 

Reformasi Antikorupsi demi Kembalikan Aset-Aset Milik Kerajaan

Adapun penyelidikan atas kasus penggelapan uang hingga Rp 1.350 triliun tersebut digelar oleh komite antikorupsi yang dibentuk lewat dekrit kerajaan. Komite tersebut dipimpin oleh Mohammed Bin Salman, putra mahkota yang baru berusia 32 tahun.

Mohammed Bin Salman diketahui memang menargetkan warga-warga kaya di Arab Saudi. Setidaknya ia mau menyampaikan bahwa cara lama berbisnis yang sarat dengan korupsi sudah tidak bisa diterima lagi di Arab Saudi. Arab Saudi saat ini membutuhkan reformasi dan modernisasi bilamana ingin bertahan sebagai negara yang berhasi di abad ke-21.

Melalui kebijakan antikorupsi tersebut, Pemerintah Arab Saudi juga akan berupaya mengamankan aset-aset pribadi yang selama ini disimpan di luar negeri. Diperkirakan jumlah aset-aset di luar negeri tersebut mencapai sekitar US$ 800 miliar.


208 orang diinterogasi