Aksi Teror Pembakaran Kendaran di Jateng, Ini Tiga Faktanya

(Berita Terpercaya) –  Aksi pembakaran kendaraan yang melanda Jawa Tengah, khususnya Semarang dan beberapa kota sekitarnya, memang meresahkan masyarakat. Kepolisian sebagai aparat penjaga kamtibmas tentu juga merasa disudutkan karena kejadian begitu marak terjadi sementara hingga hari ini belum satupun pelaku yang tertangkap.

Polisipun langsung menjawab tantangan ini  agar peristiwa yang telah terjadi ebanyak 27 kali dengan rincian, 17 kasus di Semarang, 8 di Kendal, 1 di Ungaran, dan 1 di Grobogan, tidak lagi terjadi. Hingga Kamis malam (7/2/20190, belum ada pelaku teror pembakaran yang ditangkap. Berikut ini tiga fakta seputar aksi teror ini.

Pertama, Polisi Kerahkan Dua Pertiga Kekuatan

Tidak tanggung-tanggung Polisi melalui Polda Jateng mengerahkan 1,200 personel. Dan jumlah ini setara dua pertiga kekuatan.  “Ada sekitar 1.200 lebih untuk perkuatan,” kata Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Condro Kirono. Jumlah penyebaran personel, Semarang yang tertinggi, 750 personel, diikuti Kendal 320 dan kemudian Grobogan. Tetapi sejumlah daerah lainnya juga personel tetap siaga. “Backup Polri bergabung dengan personel Polda dan Polres. Tim bekeja keras dan maksimal, semoga pelaku cepat tertangkap,” kata Kapolda.

Kedua, Siaga Sampai Jam 05.00, TNI Ikut Membantu

Aparat disiagakan penuh dari tengah malam hingga pukul 05.00. Bahkan, kata Kapolda, jam siaga aparat kini dibalik untuk siaga pada malam hari. Masyarakat yang selama ini melakukan ronda di wilayah dan kampungnya masing-masing diharapkan juga agar tetap berjaga hingga pagi hari.  “Posisi sekarang dibalik, dua per tiga personel pengamanan biasanya siang, ini dibalik malam hari. Kalau mau lihat kegiatan anggota, lihat di titik perbatasan. Babinsa dan babinkantibmas juga memberi pendampingan ke warga agar tidak meninggalkan ronda sebelum jam 5 pagi,” kata Kapolda.

TNI juga telah turun tangan membantu mengatasi kasus ini. Panglima Kodam IV Diponegoro, Mayjen Mochamad Effendi menyatakan di kelurahan atau desa, jumlah tentara pembina desa ditambah. “Jumlah Babinsa ditambah agar masyarakat semakin tenang dan menghindari aksi serupa,” ujar Pangdam.

Ketiga, Tidak Terkait Politik

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan daerah yang dipimpinnya sudah terbukti menyelenggarakan Pemilu secara damai. Kasus ini, katanya tidak terkait maslaha politik. “Jawa Tengah terkenal sejuk, damai masyarakatnya kondusif. Pemilihan Gubernur, Pemilihan Bupati serentak, sejuk-sejuk saja. Tidak ada kejadian seperti ini,” kata Ganjar. (*/sdr)

foto: teras.id