Brenton Tarran dan Pelajaran Menjaga NKRI

PELAKU teror biadab di Masjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru, Brenton Tarrant, bisa dipastikan adalah orang hidup, dibesarkan dalam doktrin bahwa “Mereka di luar kelompok saya adalah musuh”.  Mereka ini dibatasi pemisah, bisa berupa ras, agama dan suku atau identitas primordial sempit lainnya yang ukurannya bisa lebih kecil dari tiga kategori di atas, misalnya pilihan politik.

“Aku adalah ORANG PUTIH biasa saja, dari keluarga biasa, yang akan melakukan aksi untuk memastikan mas depan orang-orang dari KAUMKU,” kata Brenton dalam akun medos-nya sebelum melakukan teror mematikan.

Huruf kapital saya tambahkan untuk menegaskan bahwa Brenton telah termakan dan memelihara doktrin “Kita” versus “Mereka” dalam dirinya. Brenton khawatir akan masa depan KAUM-nya, KULIT PUTIH, yang menurutnya akan punah oleh imigran. “Bahkan andai kita mengusir smua orang Non-Eropa dari tanah kita, orang Eropa murni tetap akan menuju kepunahan,” kata Brenton lagi.

Orang atau kelompok sperti Brenton Tarrant ini ada di mana-mana. 10 tahun silam, kelompok yang ditengari bernama Lashkar e Taiba dari Pakistan melakukan teror berdarah di  Mumbai, India. 166 jiwa melayang karenanya. Doktrin “kita” versus “mereka” adalah pemicunya.

Tidak perlu jauh untuk mencari contoh lainnya. Di Tanah Air, Indonesia, juga sangat banyak contohnya. Terorisme yang masih menjadi momok bagi bangsa kita, terakhir terjadi di Sibolga, juga termakan doktrin yang sama. “Saya dan Kita” adalah pemilik kebenaran, pemilik dunia. “Kau dan Mereka” adalah orang asing yang telah dan akan merusak kemurnian “kebenaran” dalam diri “Saya” dan kaum saya.

Ironisnya, belakangan ini doktrin “Kita vs mereka” malah semakin nyaring disuarakan termasuk oleh mereka yang seharunya menjadi panutan. Dalam pemilu yang hanya berumur lima tahun dihembuskan kencang dengan memainkan politik identitas. Kita adalah “Partai Allah” dan lawan politik kita adalah “Partai Setan”.

HTI dan ISIS terang-terangan membonceng atau sengaja diboncengi dalam permainn konfigurasi politik yang kerdil memalukan. Padahal kalau HTI dan ISIS memaksakan kehendak, maka Indonesia hanya tunggu waktu hancur seperti halnya negara Suriah.

Contoh dan bukti telah hadir di depan mata, tapi nafsu untuk menjadi “KITA” sebagai kelompok pilihan yang mendominasi “MEREKA” terus digelerokan.

Padahal “kita” dan “mereka” adalah soal sudut pandang. Soal posisi berdiri. “Kita” bagi orang lain di luar kita dipandang sebagai “Mereka”. Begitu juga sebaliknya.

Mari kita jaga NKRI. Kita LAWAN  mereka yang akan mengadu-dombakan kita yang telah bersama membangun sebagai putra-putri Pertiwi. (Soni de Rosari)