cuaca ekstrem di Indonesia

Puting Beliung dan Banjir, Ini Salah Satu Penyebabnya

[Berita Terpercaya] Puting beliung yang terjadi di Yogyakarta dan Banjir di Minahasa merupakan dampak cuaca ekstrem di Indonesia belakangan ini. Cuaca ekstrem juga mengakibatkan banjir di Cilegon dan Bumiayu, termasuk juga Jakarta dan sekitarnya yang belakangan kerap diguyur hujan deras.

Dikatakan oleh Drs. Herizal, M.Si, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, cuaca ekstrem di Indonesia disebabkan oleh fenomena Madden Julian Oscilation (MJO) pada skala regional.

Menurutnya, aktivitas cuaca juga didukung aliran massa udara basah aktif yang lebih dikenal dengan fenomena skala regional MJO. Selain itu juga masih ditambah dengan pengaruh dari dinamika cuaca lokal. Demikian hal itu ditulisnya dalam keterangan resmi sebagaimana berita ini dilansir dari CNNIndonesia.com pada Kamis (26/4).

MJO itu sendiri merupakan fenomena gelombang atmosfer tropis. Gelombang ini merambat menuju arah timur, bergerak dari Samudera Hindia menuju Samudera Pasifik. Siklus perambatan dari MJO ini diketahui adalah 30-90 hari.

Menurut laporan, MJO yang berada di wilayah Indonesia saat ini sudah berada di kuadran 4. Kondisi ini berpengaruh terhadap terjadinya peningkatan penguapan. Hal itulah yang membuat pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat hingga Indonesia bagian menjadi tengah lebih tinggi.

MJO yang terjadi belakangan juga diteahui ada kaitannya dengan menjadi lebih banyaknya pusaran di sekitar wilayah Indonesia. Pusaran tersebut kemudian memicu terjadinya pemusatan massa udara. Selain itu juga terjadi jalur pertemuan angin (konvergensi) yang selanjutnya dapat memicu pertumbuhan awan.

baca: Siklon Tropis Cempaka Renggut 11 Nyawa

Dapat Meredam Suhu Panas

Apabila ditinjau dari iklimnya, kehadiran MJO ini dapat berperan dalam meredam suhu panas. Selain itu juga meredam hari hari kering di beberapa daerah yang sudah memasuki musim kemarau. Meskipun demikian hal itu tidak berarti bahwa musim kemarau menjadi gagal atau bahkan tertunda.

Fenomena MJO ini diperkirakan terus belangsung hingga awal Mei mendatang. Kondisi atmosfer pun akan kembali cenderung kering lantaran sudah memasuki musim kemarau pasca berlalunya fenomena MJO.

Terkait penjelasan tersebut, Herizal juga mengemukakan bahwa musim kemarau diperkirakan akan dominan di semua tempat di Pulau Jawa.


sbobet88