Dipaksa Menjadi Golput

(Berita Terpercaya) – Pemilu ketika dikaitkan dengan rakyat, ada ungkapan yang sering dikatakan dalam satu tarikan napas: “Tidak sekadar hak tetapi juga kewajiban”. Sayangnya di Sydney, Australia sekitar 400 warga negara Indonesia “dipaksa untuk menjadi golput”. Dahsyat!

Ironisnya “Pemaksaan” ini dikarenakan Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Sydney kewalahan menghadapai animo pemilih yang katanya luar biasa. “Panitia kewalahan karena satu TPS hanya ada tujuh orang petugas. Antrean di luar ekspektasi kami,” ujar Ketua PPLN Sydey, Heranudin, kepada Kompas.com, sembari menambahkan PPLN tidak bisa melayani pencoblosan setelaj pukul 18.00, karena tempat disewakan hanya sampai pukul 20.00.

Dagelan apa lagi ini, tapi yang jelas tidak lucu. Pertama, pemilih yang masuk dalam DPT sudah terdata dengan jelas. Sehingga pernyataan tidak menduga animo pemilih yang datang, adalah pernyataan konyol. Apakah PPLN berharap para WNI tidak akan menggunakan haknya?  Boleh jadi Pemilu sebelumnya ada trend Golput yang tinggi, tapi itu tidak bisa dijadikan asumsi untuk memutuskan sebagai sebuah kepastian.

Kedua, masak sih untuk menyelenggarakan hajat demokrasi bangsa selevel Pemilu, sewa gedung yang dijadikan TPS dibatasi waktu yang begitu ketat dan mepet. Kaya negara miskin saja.

Bagaimana kasus di Sydney menjadi pembelajaran. Mari kita berhitung secara matematika supaya kasus di Sydney tidak menjadi preseden yang bisa memantik hal yang tidak kita inginkan.

TPS buka dari jam 07.00 sampai jam 13.00 (atau 6 jam). Satu TPS melayani sekitar 300 pemilih. Satu pemilih yang harus menusuk 5 kartu suara, sebagaimana simulasi yang dilakukan oleh KPU Kabupaten Banyumas sekitar 5 menit. Artinya 300 pemilih memerlukan waktu 300 X 5 = 1.500 menit atau 1.500 : 60 = 25 jam. Wow, padahal waktu yang disediakan hanya 6 jam.

KPU harus segera memikirkan hal ini. Kasus Sydney bisa terjadi di mana saja karena perhitungan waktu yang meleset. Kurang tepatnya. Sebelum menimbulkan hal yang tidak diinginkan, segera ambil kebijakan untuk mengantisipasinya. (sdr)

foto: tribunnews