Dokter Ani Hasibuan Dipanggil Polisi, Ini Alasannya

(Berita Terpercaya) – Berdasarkan surat bernomor S.Pgl/1158/V/RES. 2.5/2019/Dit.Reskrimsus, Polda Metro Jaya memanggil Dokter Ani Hasibuan untuk diperiksa pada Jumat (17/5/2019). Panggilan terkait ucapannya dalam acara talkshow di salah satu televisi swasta yang menganggap janggal kematian petugas KPPS.

“Ya betul ada pemanggilan. Iya akan diperiksa soal kematian KPPS,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, kepada pers.

Pemanggilan terhadap Ani yang bernama lengkap Robiah Khairani Hasibuan dilakukan karena ada laporan orang yang bernama Carolus Andre Yulika pada 12 Mei 2019. Laporan ini terdaftar dalam nomor : LP/2929/V/2019/PMJ/Dit.Reskrimsus tanggal 12 Mei 2019.

Ani dilaporkan sesuai Pasal 28 ayat 2 juncto pasal 35 juncto Pasal 45 ayat 2 UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan atau Pasal 14 dan atau Pasal 15 UU nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana Jo Pasal 55 ayat 1 Jo Pasal 56 KUHP

Seperti diketahui bersama, dalam acara di televisi tersebut Ani mengatakan: “Saya sebagai dokter dari awal sudah merasa lucu, gitu. Ini bencana pembantaian atau pemilu? Kok banyak amat yang meninggal. Pemilu kan happy-happy mau dapat pemimpin baru kah atau bagaimana? Nyatanya (banyak yang) meninggal,” ujar Ani.

Kemudian Ani melanjutkan: “Kalau kita bicara fisiologi, kelelahan itu kan kaitannya dengan fisik. Kalau orang beraktivitas, dia pakai gula, metabolisme. Kalau habis, capek, dia hipoglekimia, dia lapar. Kalau enggak, oksigennya dipakai, dia hipoksia, dia ngantuk. Jadi orang capek itu, dia ngantuk, dia lapar. Kalau dipaksa, dia pingsan. Enggak mati dong,” kata Ani.

Tidak hanya itu, Argo Yuwono juga, sebagaimana dilansir dari Kompas.com, mengatakan  akan meminta keterngan dari Ani terkait tudingan adanya senyawa kimia pemusnah massal penyebab meninggalnya petugas KPPS.

Memang beberapa hari belakangan ini beredar foto bidik layar artikel dari situs tamsh-news.com di media sosial, nama Ani tercantum dalam judul berita disertai pernyataan, “Pembantaian Pemilu, Gugurnya 573 KPPS”. Namun, berdasarkan penelusuran Kompas.com di pranala https://tamsh-news.com/article/dr-ani-hasibuan-sps–pembantaian-pemilu-gugurnya-573-kpps, dalam tubuh berita dipaparkan soal klaim telah ditemukan senyawa kimia pemusnah massal pada tubuh 573 anggota KPPS yang meninggal dunia, tanpa satu pun pernyataan dari Ani mengenai hal tersebut.  (*/sdr)

foto: detik.com