Membuatkan susu untuk anak di Asmat

Edukasi Cara Membuatkan Susu untuk Anak di Asmat

[Berita Terpercaya] Membuatkan susu untuk anak di Asmat merupakan salah satu bentuk edukasi yang dilakukan dokter spesialis anak di RSUD Agats. Edukasi tersebut diberikan kepada para orangtua, termasuk ibu para pasien anak yang berada di Kabupaten Asmat, Propinsi Papua.

Masih banyak orangtua di Asmat yang belum paham cara membuatkan susu untuk anak. Hal tersebut dapat berpengaruh terhadap tidak sesuainya kebutuhan asupan gizi bagi anak. Demikian hal tersebut juga dikemukakan oleh Dimas Dwi Saputro, dokter spesialis anak di Agats.

Selain mengedukasikan cara Membuatkan susu untuk anak di Asmat, Dimas berencana memberikan edukasi terkait cara-cara dasar pencegahan penyakit. Baik itu cara mencuci tangan yang baik dan benar, perilaku hidup bersih maupun etika batuk di tempat umum.

Ia berharap melalui edukasi tersebut dapat meningkatkan pemahaman terkait pentingnya asupan gizi bagi anak dan memlihara kesehatan keluarga.

Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan gizi buruk yang terjadi di Kabupaten Asmat diketahui telah mengakibatkan 61 balita meninggal dunia. Itu masih ditambah dengan 175 pasien campak dan gizi buruk harus menjalani rawat inap dan 393 lainnya rawat jalan.

Kondisi kesehatan warga di Kabupaten Asmat diketahui selama ini masih di bawah standar. Angkanya hanya berkisar 40 persen. Selain itu imunisasi juga belum menjangkau setiap anak yang terdapat di kampung. Demikian informasi ini sebagaimana dilaporkan dalam Liputan6.com.

 

Berbagai Kondisi Pasien di RSUD Agats

Dimas mengatakan bahwa kondisi secara umum pasien anak di RSUD Agats stabil. Namun demikian masih ada kondisi pasien anak dengan Hb di bawah 4. Anak tersebut sebagaimana dilaporkan Liputan6.com juga merupakan pasien dengan kondisi gizi buruk. Penanganannya juga diketahui membutuhkan transfusi.

Sementara itu juga ada bayi prematur kembar dengan usia kehamilan 31 minggu di ruang bayi. Berat keduanya diketahui 900 gram dan 1.000 gram. Kedua bayi tersebut diketahui terkena risiko hipotermia dan kuning (hiperbilrubinemia).

Diungkapkan oleh Dimas, pasien rawat inap didominasi anak-anak. Tidak adanya ruang isolasi khusus untuk campak, memaksa pihak rumah sakit membuatkan ruang rawat khusus anak yang terkena campak.