Edy Winarya : Regulasi Optimalkan Kegiatan Budaya

(Berita Terpercaya) –  Upaya pelestarian dan pengembangan kebudayaan tidak terlepas dari sistem regulasi dan kebijakan pemerintah. Pelaksanaan UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan memungkinkan semakin berkembangnya kebudayaan serta upaya pelestarian lebih optimal dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
Sekretaris Dinas Kebudayaan Sleman Edy Winarya, S. Sn, M. Si menyampaikan hal itu saat memberikan sambutan pada Bedah Buku Toponimi Padukuhan di Sleman : Tapak Pangeran di Bumi Merapi, Kamis (11/11/2021) di Puri Mataram, Sleman. Tidak lupa, Edy juga mengingatkan agar masyarakat, termasuk pelaku seni budaya tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan (prokes) agar tidak terjadi klaster baru dalam penyebaran virus Corona.
Pelaksanaan forum bedah buku tersebut memang menerapkan prokes. Misalnya, membatasi peserta hanya perwakilan penulis yang telah vaksinasi dua kali serta perwakilan Pendamping Budaya.
Edy mengapresiasi kreativitas pelaku budaya yang telah berhasil menyusun dan menerbitkan buku yang memuat sebanyak 30 toponimi padukuhan di Kabupaten Sleman dengan melibatkan 30 penulis dari berbagai profesi, seperti guru, jurnalis, mahasiswa, dan dosen.
“Pagi ini saya beri apresiasi setinggi-tingginya. Kami hanya bisa memfasilitasi. Di Sleman ternyata tak kalah dengan daerah lain di DIY, walaupun adoh keraton (jauh dari Keraton Yogyakarta – red). dari buku ini terungkap, tiap nama padukuhan ada sejarahnya. Banyak hal yang dapat kita ungkap. Ini yang akan jadi rujukan penetapan kebijakan dan bahan studi banyak pihak,” terang Edy.
Sastrawan Budi Sardjono mengilustrasikan, proses penyusunan buku tersebut bagai berkejaran dengan waktu. Mengingat, narasumber primer dari tiap-tiap padukuhan rata-rata sudah uzur yang juga banyak lupa sejarah padukuhan. Karenanya, dengan kehadiran Pendamping Budaya diharapkan dapat berpartisipasi apabila kelak ada program serupa.
“Kami seperti berkejaran dengan waktu. Banyak narasumber (primer -red) yang sudah lansia. Sedangkan pejabat di padukuhan masih muda sehingga tak tahu sejarah padukuhannya. Yang kami tulis baru 30 padukuhan. Sementara jumlah totalnya ada 1.212 padukuhan. Maka, kami ajak teman-teman Pendamping Budaya. Jangan hanya konsentrasi pada wayang, ketoprak, jathilan, musik. Itu penting. Tapi, jauh lebih penting kalau kita mendokumentasikan sejarah atau cerita tentang asal-usul nama padukuhan. Kita punya ratusan penulis yang siap dilibatkan. Buku ini akan bermanfaat untuk anak cucu,” ucapnya.
Sementara, wartawan senior Sutopo Sugihartono menggarisbawahi konten buku toponimi berisi features yang sebagian besar bersumber pada sejarah Keraton Mataram serta peninggalan perang Pangeran Diponegoro. Hal itu ditunjukkan dengan munculnya petilasan, juga beberapa peninggalan yang menunjukkan sejarah asal-usul padukuhan.
Salah satu penulis Toponimi, Sabatina Rukmi Widiasih menceritakan pengalaman saat reportase, berburu narasumber, dan menulis features toponimi Padukuhan Blambangan. Awalnya, ia mengalami kesulitan mendapatkan narasumber yang mengetahui sejarah Padukuhan Blambangan tersebut. Setelah beberapa kali menyambangi padukuhan tersebut akhirnya ia berhasil mendapatkan narasumber yang kapabel. Dari narasumber ia mendapatkan cerita menarik tentang Minakjinggo yang menjadi Adipati Blambangan serta cucu penerus tahtanya, yang ternyata pernah singgah di kawasan tersebut guna berziarah.  (sar)