Gereja Ganjuran dan Jejak Keluarga Schumutzer

(Berita Terpercaya) – Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, Bantul, kini menjadi salah satu tempat peziarahan favorit di wilayah Provinsi DIY. Tiap hari selalu saja ada peziarah baik dari Yogyakarta maupun luar daerah. Penataan gereja dan juga Candi yang merupakan salah tujuan peziarah kini sudah ditata makin apik, asri dan nyaman.

Oya, gereja  yang berjarak sekitar 17 kilometer dari Kota Yogyakarta ini dibangun oleh kakak-beradik berkebangsaan Belanda, Joseph Ignaz Julius Maria Schmutzer dan Julius Robert Anton Maria Schmutzer, 94 tahun silam, tepatnya tahun 1924. Keduanya adalah pemilik pabrik gula Gondang Lipuro di Ganjuran yang pada masanya memang sangat berhasil.

Sebagai penganut Katolik yang taat, kedua bersaudara ini mengikuti ajaran yang diperkenalkan oleh Paus Leo XIII pada tahun 1891, yakni “Rerum Novarum”. Satu ajaran sosial gereja yang menegaskan bahwa majikan dan buruh adalah mitra yang saling melengkapi. Buruh bukan sapi perah.

Makanya, atas segala keuntungan yang diperoleh dari hasil  perkebunan, keluarga Schmutzer lantas berbagi dengan para pekerja sekitar Bantul. Masih satu halaman dengan gereja juga didirikan sekolah rakyat (tahun 1919), poliklinik (tahun 1921) yang kini berubah menjadi Rumah Sakit Santa Elisabeth.

Tidak hanya terkait urusan religi. Keluarga Schmutzer juga mendirikan bendungan Kamijoro (tahun 1924) yang mengaliri ribuan hektar sawah di Bantul dan sampai saat masih berfungsi. Kini pemerintah sedang melakukan renovasi terhadap bendungan ini.

Tiga tahun setelah membangun gereja, Schmutzer bersaudara melengkapi kompleks gereja ini dengan membuat sebuah candi yang juga dinamai Candi Hati Kudus Tuhan Yesus. Di candi bercorak Hindu ini terdapat patung Yesus yang sedang duduk dengan pakaian adat Jawa, dan berambut seperti pendeta Hindu dengan mahkota di kepalanya.

Dua puluh tahun silam di dekat candi ditemukan mata air yang sangat jernih dan dapat langsung diminum, serta dipercaya memiliki khasiat menyembuhkan penyakit. Mata air ini kemudian diberi nama Tirta Perwitasari. Tirta berarti air, adapun Perwitasari diambil dari nama orang yang pertama kali merasakan khasiat air tersebut. Sejak saat itu, setiap peziarah yang sakit dan berharap memperoleh kesembuhan melakukan ritual doa di candi tersebut.

Kamis (15/11/2018) malam, ketika saya terus berjalan ke dalam halaman gereja, suasana hening sangat dijaga walaupun para peziarah seperti tidak putus-putusnya datang berdoa. Halaman gereja sangat asri dan sejuk. Pepohonan besar dan rimbun seolah menjadi payung. Rumput dan tanaman bunga ditata di sela-sela jalan dan tempat untuk berdoa yang terbuat dari conblock.

Candi terletak di sisi Timur gereja dengan halaman yang sangat luas membentang arah utara – selatan. Pada pagar pembatas halaman gereja, persis pada pagar, dibuat sejumlah perhentian jalan salib. Di sini, dalam keheningan yang semakin kental, sayup-sayup terdengar suara gending gamelan membawa para peziarah dalam kekhusyukan doa.

Ritual yang umum dilakukan oleh para peziarah, pertama membasuh muka dan mengisi wadah air dengan Tirta Perwitasari. Setelah itu menyalahkan lilin pada tembok belakang candi. Di sini sudah dibuatkan wadah untuk menyalahkan lilin. Setelah itu duduk bersimpuh di depan candi memanjatkan doa dan permohonan. Sebelum pulang, peziarah masuk ke dalam candi dan berdoa di depan patung Yesus Kristus. Biasanya antrean sangat panjang sehingga berdoa di depan patung Yesus sangat singkat. (sdr)