Hanum Rais, Bumerang dan Front Penyerangan Baru

(Berita Terpercaya) – Ramai bahkan sangat gencar di-bully warga sosial media terkait film “Hanum dan Rangga”, Hanum Rais buka suara. Maunya sih, apalagi kalau bukan pembelaan diri. Tapi sayang, sikap dan pernyataan Hanum Rais justru akan membuka front, medan penyerangan baru terhadap diri dan sudah pasti akan berdampak pada filmnya.

Dua pernyataan kunci yang yang bakal memantik front baru itu adalah ketika Hanum Rais mengatakan, sebagaimana dikutip dari detik.com: (1) “Saya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra sangat menyayangkan terjadinya hujatan dan cyberbullying atas film kami hanya karena perbedaan pandangan politik.” (2) “Hanya karena kata ‘Rais’ yang melekat di belakang nama saya, rekan-rekan semua harus menerima juga hujan hujatan dan kata-kata kotor.”

Tangkisan Hanum Rais ini adalah  jelas sebuah bumerang yang akan melakukan serangan balik terhadap dirinya. Pertama, karena Hanum Rais memposisikan dirinya sebagai pihak yang  baik dan benar (innocent). Kedua, para pengritik, atau meminjam istilah Hanum, cyberbullying, dikategorikan sebagai kelompok yang “asal main pukul tanpa pertimbangan yang logis”.

Hanum menilai mereka telah mempolitisasi film. Telah mendegradasikan  sebuah karya seni budaya pada titik terendah (karena politik yang saya tangkap di sini adalah sebuah permainan kotor untuk sebuah kekuasaan).  Hanum juga telah menuding para pengritiknya asal main hantam saja. Karena “ada nama Rais” maka hukumnya wajib di-bully.

Ini jelas jauh dari simpati sebagai sebuah pembelaan diri. Hanum sama sekali tidak berkaca diri atas sikap dan pernyataannya beberapa waktu sebelum film ini dirilis. Ambil contoh, pernyataan-pernyataannya dalam kasus hoax penganiayaan Ratna Sarumpaet.

Hanum juga harusnya sadar bahwa sebagai sebuah karya seni budaya, maka apresiasi terhadap sebuah film harus diletakkan pada kualitas karya itu. Penonton yang berduyun ke bioskop karena memang didorong oleh kekuatan film itu sendiri.

Sebuah film bukan bergantung pada surat imbauan sebuah Partai Politik, seperti surat edaran Partai Amanat Nasional bernomor PAN/A/WKU-SJ/172/XI/2018 yang mengimbau kadernya menonton film “Hanum dan Rangga”. Atau surat permohonan kepada para Rektor agar para civitas academica ikut menonton film.

Memang sah-sah saja sebagai sebuah usaha promosi. Namanya juga bisnis perfilman. Uang yang dikeluarkan sudah sangat banyak, jadi wajarlah kalau proaktif menjajakan dagangan sampai mengetuk rumah orang, biar paling tidak balik modal.

Tapi kalau kemudian mengatakan segala kritikan itu politisasi bahkan karena sebuah nama “Rais”, ini jelas akan menjadi bumerang yang pasti akan menyerang balik. Hanum sudah menciptakan front perang baru bagi dirinya sendiri. Mungkin Hanum masih muda sehingga sangat responsif dan reaktif atas persoalan dirinya tanpa pertimbangan yang lebih jauh.

Padahal kalau sekadar defense, karena kita semua sudah paham betapa gencar serangan cyberbullying itu dialamatkan ke Hanum, tentu akan membangkitkan simpati publik. Paling tidak akan mendongkrak penonton “Hanum dan Rangga”.

Sayapun mencari, browsing arti kata Hanum … tanpa Rais di belakangnya. Dan itu merujuk pada sebuah arti yang luar biasa: Nona, istri, perempuan dan … kelembutan. Teriring doa kepada para perempuan berhati lembut yang menyandang nama “Hanum”, semoga kalian sehat dan bahagia selalu. (soni)

 

foto: panjimas.com