Inilah 5 Poin yang Diperingatkan SBY kepada Prabowo

(Berita Terpercaya)  – Mantan Presiden dan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY) merasa prihatin dan khawatir dengan kondisi bangsa ini terutama menjelang Pilpres yang terpolarisasi dalam politik identitas yang sangat rentan memecah-belahkan bangsa.

“Saya mengamati bahwa kontestasi dalam pemilu 2019 ini, utamanya pilpres, lebih keras dibandingkan dengan pilpres di era reformasi sebelumnya. Polarisasi nampak lebih tajam. Disertai dukungan antar identitas yang makin berjarak,” ujar SBY sebagaimana ditulis dalam suratnya beberapa waktu lalu.

Terkait kampanye akbar pasangan 02 Prabowo-Sandiaga di Gelora Bung Karno, Minggu (7/4/2019), SBY kembali mengingatkan agar kubu yang ikut didukung oleh Partai Demokrat ini agar mengedepankan kebhinnekaan dan inklusivitas dalam kampanye. Berikut ini lima poin pernyataan SBY.

Pertama, Mendapat Kabar Dari Tanah Air

Masih berada di Singapura, SBY menulis surat yang ditujukan kepada tiga petinggi Demokrat, yaitu Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat Amir Syamsudin, Waketum Partai Demokrat Syarief Hassan dan Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan.

“Saya menerima berita dari tanah air tentang set up, run down dan tampilan fisik kampanye akbar atau rapat umum pasangan capres-cawapres 02, Bapak Prabowo Subianto-Bapak Sandiaga Uno, di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. Karena menurut saya apa yang akan dilakukan dalam kampanye akbar di GBK tersebut tidak lazim dan tidak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif,” kata SBY dalam suratnya.

Kedua, Meminta Agar Prabowo Diingatkan

SBY kemudian menulis surat lagi dan menyatakan bahwa ternyta berita yang didengar itu benar adanya. Kata SBY, dari lingkaran Prabowo, terkonfirmasi berita itu mengandung  kebenaran. “Sehubungan dengan itu, saya minta kepada Bapak bertiga agar dapat memberikan saran kepada Bapak Prabowo Subianto, Capres yang diusung Partai Demokrat, untuk memastikan hal-hal sebagai berikut:”

“Penyelenggaraan kampanye nasional (dimana Partai Demokrat menjadi bagian didalamnya) tetap dan senantiasa mencerminkan ‘inclusiveness’, dengan sasanti ‘Indonesia Untuk Semua’ Juga mencerminkan kebhinekaan atau kemajemukan. Juga mencerminkan persatuan. ‘Unity in diversity’. Cegah demonstrasi apalagi ‘show of force’ identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuasa ideologi, paham dan polarisasi politik yang ekstrim,” tulis SBY.

Ketiga, Pemimpin yang mengedepan politik identitas adalah pemimpin yang rapuh

Dalam surat tersebut SBY menekankan proses kampanye dimaksudkan untuk mencari kandidat sebagai pemimpin untuk semua pihak. Pemimpin, kata SBY, yang mengedepankan permainan identitas akan menjadi pemimpin rapuh. “Saya sangat yakin, paling tidak berharap, tidak ada pemikiran seperti itu (sekecil apapun) pada diri Pak Jokowi dan Pak Prabowo. Saya pribadi, yang mantan Capres dan mantan Presiden, terus terang tidak suka jika rakyat Indonesia harus dibelah sebagai ‘pro Pancasila’ dan ‘pro Kilafah’,” tulis SBY.

Keempat, Masyarakat tidak boleh terbelah dan saling bermusuhan

SBY yang dua kali menjabat sebagai presiden tak ingin masyarakat menjadi terbelah dan saling bermusuhan. Fakta membuktikan banyak contoh negara hancur kibat konflik politik idntitas. Kampanye harus mengedepankan visi, misi, program kerja. “Dari pada rakyat dibakar sikap dan emosinya untuk saling membenci dan memusuhi saudara-saudaranya yang berbeda dalam pilihan politik, apalagi secara ekstrim, lebih baik diberi tahu , apa yang akan dilakukan Pak Jokowi atau Pak Prabowo jika mendapat amanah untuk memimpin Indonesia 5 tahun mendatang (2019-2024). Apa solusinya, apa kebijakannya,” tulis SBY.

Kelima, Jangan Kesankan Prabowo sebagai Pembela Khilafah

SBY mengatakan kalau dirinya tak ingin Prabowo dikesankan sebagai sosok pembela Khilafah, sementara Jokowi dikaitkan dengan kelompok komunis. “Tinggalkan dan bebaskan negeri ini dari benturan indentitas dan ideologi yang kelewat keras dan juga membahayakan. Gantilah dengan platform, visi, misi dan solusi. Tentu dengan bahasa yang mudah dimegerti rakyat. Sepanjang masa kampanye, bukan hanya pada saat debat saja,” ungkap SBY. (*/sdr)