Jogja Patriae Academy : Inspirasi dari Konsep Pendidikan Privat

PENYELENGGARAAN pendidikan yang ideal bukan klasikal, melainkan justru bersifat privat. Dilandasi dari cara berpikir bahwa setiap individu memiliki kecerdasan tertentu maka tugas seorang pendidik mengeksplorasi potensi anak.

Pendeta Jimmy Piter Kalauserang, SIP mendapatkan konsep trivium dari sebuah buku tentang metode pembelajaran. Ia pun menerapkan teori tersebut, yakni dengan mendidik ketiga anaknya sendiri dengan metode home schooling. Dimulai dari anak sulungnya, Esther Deborah Kalauserang yang baru satu tahun menginjak bangku sekolah dasar (SD), lalu dididik sendiri di rumahnya.

Maka, terhitung sejak 20 Agustus 2006, Jimmmy dan istrinya, Widayanti Dwi Adi, SIP merintis home schooling Tunas Patriae. Menyusul dua anaknya, yang kedua dan ketiga (bungsu), juga dididik dalam home schooling yang dirintisnya. Hingga tiga tahun berjalan, mulai datang respons dari sahabat-sahabatnya yang menitipkan anak-anak mereka ke Tunas Patriae. Jimmy pun mengembangkan Tunas Patriae menjadi Jogja Patriae Academy (JPA) mulai 20 Agustus 2009.

“Kami lihat, mendidik itu kan sebenarnya tanggung jawab orangtua. Bukan orangtua yang menitipkan anak ke sekolah dan berharap sekolah yang mengubah anak. Karena, jam di rumah kan lebih banyak. Kami juga ingin memberi nilai sendiri, nilai kesantunan, kebaikan, karakter, moral. Kita tahu pergaulan anak-anak tak bisa dikendalikan. Kami berharap bisa menjaga lingkungan menjadi kondusif untuk belajar anak-anak,” ungkap Jimmy, alumnus program studi Hubungan Internasional Fisipol UGM, Senin (26/8/2019) sore di Syantikara Youth Center.

Jimmy mengadopsi kurikulum dari Amerika Serikat yang digabungkan dengan kurikulum sebagaimana diatur dalam sistem pendidikan nasional. Istilahnya, kurikulum nasional plus. Artinya, selain mengadopsi konsep pendidikan dari Amerika, Jimmy juga menerapkan pendidikan budi pekerti yang berbasis kearifan lokal sehingga meski pandai berbahasa Inggris, siswa JPA tidak tercerabut dari akar budaya lokal yang adiluhung.

Hingga kini JPA telah meluluskan beberapa alumni yang diterima di sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta ternama, salah satunya adalah Debra, anak sulung Jimmy yang kini kuliah di Sastra Inggris Sanata Dharma Yogyakarta. Salah satu siswa SMP-nya, Octavianus Samuel Kusuma Wardana, berhasil membawa JPA pada peringkat kedua terbaik di DIY dan kini diterima di SMA Negeri 3 Yogyakarta.

Pada usia 10 tahun ini, JPA yang berlokasi di Jalan RIngroad Utara, Pajajaran, Gandhok 5A, Sleman telah meluluskan sedikitnya 20-an. Guru yang direkrut dari sarjana fresh graduate sejumlah 15 orang. Ada juga JPA tingkat SMP dengan KBM secara online dan diikuti dua siswa, di Parakan dan Biak, mulai tahun ajaran 2019/2020.

Jimmy juga menyampaikan harapan agar JPA semakin dikenal masyarakat dan memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal.

“Selanjutnya, kami punya gedung sendiri. Selama ini masih menyewa. Harapan kami juga, peserta didik memiliki akhlak mulia, berguna, dan mengharumkan nama bangsa,” pungkas Jimmy menutup bincang-bincang. [rts]