Ketika Mas Menteri Bermalam di Rumah Nuri

(Berita Terpercaya) – Khoiry Nuria Widyaningrum (36) tidak menyangka akan kedatangan tamu seorang menteri dari Jakarta. Bahkan, ia sama sekali tidak berpikiran sang menteri berkenan bermalam di rumahnya, di Padukuhan Plaosan Kalurahan Tlogoadi Kapanewon Mlati Kabupaten Sleman.
Sebelumnya, Nuri, demikian sapaan akrabnya, Minggu (12/9/2021), dihubungi pihak Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK), memberitahukan rencana kunjungan pejabat dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ke rumahnya. Karena gugup dan merasa tidak siap, ia mengarahkan petugas dari P4TK mengunjungi rumah orang tuanya saja. Namun, dari petugas itu menyampaikan pesan dari Kemendikristek agar ia menyambut dengan sikap wajar saja.
Berselang dua hari kemudian, Selasa (14/9/2021) ia benar-benar kedatangan sosok menteri yang masih muda yang biasa disapa dengan panggilan “Mas Menteri” itu. Ia yang mengajar di SDN Jetisharjo terkejut.
“Saya pikir, sekelas Mas Menteri mana mungkin datang ke rumah. Tapi, ternyata benar-benar tidak terduga, mendadak, dan saya agak kena prank. Nggak tahu kalau sosok menteri yang benar-benar datang dan menginap,” katanya.
Nuri mengaku sebelumnya tidak berharap karena banyak rumah guru yang disurvei. Tapi, ternyata dari kementerian benar-benar datang untuk mensterilkan keadaan rumahnya.
Kemudian, pada Senin (13/9/2021), Nuri kembali dihubungi oleh protokoler kementerian untuk datang menginap. Usai dihubungi, tiba-tiba petugas P4TK datang untuk membersihkan rumah dan menyemprot desinfektan.
Sampai di situ Nuri masih belum menyangka. Ia sama sekali tidak berpikir kalau yang datang benar-benar Nadiem Makarim.
Sekitar pukul 20:30, ia melihat dari dalam mobil turun seorang lelaki muda mengenakan kaos dan celana jeans yang ternyata benar benar Nadiem.
“Ada satu orang turun dari mobil. Ia pakai jeans, kaos. Terus, dia nurunin koper dan memberikan salam. Suami saya sadar kalau itu Mas Menteri. Tapi, saya nggak percaya tapi kemudian Mas Menteri itu buka masker sebentar baru saya percaya,” ungkapnya.
Satu hal lagi yang membuat Nuri bingung, bagaimana ia menjamu Nadiem Makarim?
Menu seperti apa yang harus disuguhkan kepada tamu agung? Sementara, ia hanya mampu memasak ala kadarnya.
Tampaknya kebingungan Nuri diketahui petugas dari P4TK.
Alhasil, dari kementerian menyarankan untuk menyiapkan makanan yang biasa dikonsumsi oleh keluarga Nuri saat sarapan. Maka, Nuri pun menyediakan bubur, nasi, dan gudeg.
“Saya sempat bingung. Mau menyiapkan makanan apa. Tapi, dari protokoler bilang, nggak usah diada-adain. Nggak usah bingung. Ya sudah saya sediakan ada bubur, tahu bacem, tempe bacem, krecek, gudeg,” terangnya.
Belakangan diketahuinya, sebenarnya Mas Menteri tidak pernah sarapan karena diet. Hanya minum air dan kopi. Mas Menteri hanya menikmati tempe bacemnya dan memuji rasanya mantul.
Di rumah Nuri itu Nadiem menempati sebuah kamar berlantai keramik dengan susunan batu gaya lawasan. Ukuran kamarnya sekitar 3×4 meter, layaknya kamar kost mahasiswa. Letak kasur yang digunakan Nadiem berada dekat dengan jendela.
Keesokan paginya Nuri sempat menanyakan bagaimana tidurnya Nadiem. Mas Menteri menjawab tidurnya nyenyak dan ia merasa senang karena suasananya adem.
Nuri memanfaatkan waktu semalam itu untuk berdiskusi dengan Nadiem soal dunia pendidikan. Maklum, sudah belasan tahun ia menjadi guru. Apalagi kedua orang tua dan suaminya merupakan guru juga. Jadilah keluarga ini keluarga guru selama tiga generasi sejak kakeknya.
“Ini kesempatan ya ketemu Mas Menteri. Ini pemimpin yang out of the box. Saya senang bisa mengutarakan aspirasi yang jadi uneg-uneg saya di dunia pendidikan langsung kepada Mas Menteri,” ucap perempuan yang sempat menjadi kepala sekolah itu.
Obrolan mereka, kata Nuri, banyak menyinggung soal pendidikan Indonesia hari ini. Nuri juga mengatakan jika Nadiem memberikan beberapa masukan kepadanya.
“Obrolannya sempat ke arah situ (guru penggerak). Terus soal Merdeka Belajar, banyak ngasih motivasi kepada guru bahwa kita harus merdeka mengembalikan fitrah pendidikan bahwa tidak hanya akademik yang dituntut tapi sebenarnya pendidikan itu menuntun kodrat dan untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan siswa,” pungkasnya. (*/dtc)
Foto : radar jogja