KLB Demokrat di Sumut Akibat Dendam Politik Kubu Anas dan Marzuki

(Berita Terpercaya) – Akumulasi dendam kubu Anas Urbaningrum diduga menjadi pemicu Kongres Luar Biasa Partai Demokrat (KLB PD) di Deliserdang, Sumatera Utara. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai mengingkari janjinya untuk mengakomodasi kubu Anas. Bahkan ia menyingkirkan faksi Anas dan Marzuki Alie pada 2010 dan 2013.

Sinyalemen tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari yang mengendus motivasi dendam politik di balik pelaksanaan KLB. Bersamaan terjadinya perpecahan di internal Partai Demokrat akibat Kongres 2010 yang terakumulasi hingga 2021 kini.

“Memang ada dendam politik. Tapi, lebih kepada dendam politik orang-orang yang dulu berseteru dengan, katakanlah Cikeas. Jadi, menurut saya ini residu dari pertarungan politik 2010 dan akumulasi selanjutnya,” kata Qodari, Jumat (5/3/2021).

Sebelumnya diberitakan, pendiri dan kader PD Jhoni Allen Marbun dan kelompoknya menggelar KLB PD di Hotel The Hill Sibolangit, Deliserdang, Sumatera Utara, Jumat (5/3/2021). Even tersebut menghasilkan keputusan terpilihnya Moeldoko sebagai Ketua Umum DPP PD dan Marzuki Alie menjadi Ketua Dewan Pembina.

Dikatakan Qodari, pada Kongres Partai Demokrat 2010, SBY menjagokan Andi Malarangeng. Tapi, jagonya dikalahkan Anas Urbaningrum yang terpilih sebagai Ketum pada periode itu. Saat itu, kata Qodari, Anas Urbaningrum juga menguasai DPC dan DPD.

Menurut Qodari, kekalahan Andi secara telak membuat SBY kaget. Lebih-lebih, setelah PD menggelar Musda, Anas banyak mengisi orang-orangnya di DPC dan DPD. Alhasil, Anas pun menguasai partai.

Namun, Anas akhirnya tersandung kasus hukum dengan ditetapkannya sebagai tersangka korupsi pada 2013. Saat itulah KLB 2013 terjadi dan  terbentuk pula perjanjian antara Anas Urbaningrum dan SBY terkait persyaratan SBY menjadi ketum.

“Anas menjadi tersangka, begitu tersangka, berhenti jadi ketum. Pada KLB 2013 Marzuki Alie akan maju jadi ketua umum, Anas juga mundur dan katakanlah membuka pintu bagi (SBY) KLB gitu ya, kan di daerah orang dia semua, orang Anas semua itu dia, nah membuka pintu bagi kongres itu dengan catatan orang-orang Anas diakomodasi oleh SBY itu,” ujarnya.

Namun, kenyataannya SBY tidak pernah mengakomodasi orang-orang Anas Urbaningrum, dan Marzuki Alie juga menjadi korban perjanjian Anas Urbaningrum dan SBY. Dari sinilah, menurutnya dendam itu muncul dan terjadilah KLB PD di Deliserdang, Sumatera Utara dengan pencetus Jhoni Allen Marbun dan orang-orang Anas Urbaningrum dan Marzuki Alie.

“Menurut yang saya dengar, orang-orang Anas itu tidak diakomodasi. Jadi, istilahnya, kubu Anas tersingkir, Marzuki Alie juga makin tersingkir. Nah, itu yang menjelaskan kalau kita lihat pemain utama pada hari ini itu, kan, misalnya Jhoni Allen Marbun,” tandasnya.

Jhoni Allen Marbun, lanjut Qodari merupakan motor dan operatornya Anas Urbaningrum pada 2010. Termasuk ada Nazaruddin timnya Anas juga. Lalu, muncul Marzuki Alie yang bberapa hari sebelum KLB PD sudah dipecat oleh AHY akhirnya ikut melawan SBY dan AHY.

Selain masalah dendam politik, masih ada dua persoalan masa kini dan masa depan yang menyebabkan akumulasi keinginan KLB semakin besar. Masalah di masa lalu adalah soal partai yang dijanjikan SBY menjadi partai terbuka, tapi kenyataan bertolak belakang menjadi partai keluarga.

Selain itu, ada janji politik SBY untuk mengakomodasi kubu Anas dan kubu Marzuki yang diingkari. Lalu, masalah sekarang pro kontra soal iuran dari daerah ditarik ke pusat, kemudian dari daerah dimintai dana tapi tidak dikembalikan lagi untuk pilkada. Lalu, prosepek partai di masa depan apakah suara naik atau jeblok karena kepemimpinan AHY yang diragukan kapabilitasnya. (*/dtc)

Foto : screenshot kompastv