Menikahi Pengungsi Rohingya, Siap Diburu Polisi Bangladesh

[Berita Terpercaya] Krisis kemanusiaan di Myanmar dan eksodus pengungsi Rohingya sejak akhir Agustus lalu memang mengisahkan banyak kisah pilu. Demikian hal tersebut juga dialami oleh Shoaib Hossain Jewel, seorang guru Madrasah berusia 25 tahun di Bangladesh. Jewel nekad menikahi  pengungsi Rohingya yang bernama Rafiza, usia 18 tahun. Warga Desa Charigram tersebut kini tengah menjadi buruan pihak Kepolisian daerah Singair.

Jewel dan Rafiza memang telah menjalin hubungan kasih sejak Rafiza dan keluarganya mengungsi di rumah salah seorang imam di Singair. Jalinan hubungan kasih pasangan tersebut pun lama kelamaan terdengar sampai juga ke telinga aparat kepolisian di Singair.  Mendengar hal tersebut lantas meminta paksa Rafiza dan keluarganya untuk kembali ke kamp pengungsian pertamanya di Cox’s Bazar berjarak 265 mil dari Singair.

Tidak mau menyerah, Jewel yang sudah terlanjur mencintai Rafiza pun mencari Rafiza dari kamp pengungsi yang satu ke kamp pengungsi lainnya. Setelah didapatinya Rafiza, Jewel pun bergegas minta restu dari kedua orang tua untuk menikahi gadis pengungsi tersebut. Mereka lalu menikah dan menjadi pasangan pertama yang mengikat antara warga negara Bangladesh dan pengungsi Rohingya.

Khandaker Imam Hossain, Kepala Kepolisian Singair mengungkapkan kepada AFP  bahwa mereka hanya mendengar, Jewel menikahi perempuan Rohingya. Setelah pihaknya ke rumah Jewel di Desa Charigram pun tidak menemukan pasangan tersebut. Adapun orang tua dari kedua pasangan tersebut setelah dikonfirmasi juga tidak tahu keberadaan mereka berdua.

baca juga >>> Krisis Rohingya, Sebuah Mimpi Buruk Kemanusiaan

Menikahi Pengungsi Rohingya atas Rasa Saling Cinta

Sementara itu Ayah Jewel saat diinterogasi pihak Kepolisian daerah Singair pun menyatakan pernikahan antara anaknya dengan Rafiza tersebut tidak terkait status kewarganegaraan. Keduanya menikah berdasarkan rasa saling cinta. Babul Hosain, ayah dari Jewel tersebut juga mengungkapkan bahwa hal tersebut tidak ada salahnya.”Jika seorang warga Bangladesh bisa menikahi orang Kristen dan dari agama lain, apa yang salah jika anak saya menikahi Rohingya? Dia menikahi seorang Muslim yang ditampung di Bangladesh,” katanya.

Bangladesh sejak tahun 2014 memang telah memberlakukan larangan bagi setiap warga negaranya untuk menikahi pengungsi Rohingya. Larangan tersebut diberlakukan mengingat adanya sejumlah klaim tentang perolehan status kewarganegaraan. Tidak sedikit pengungsi Rohingya yang kerap menggunakan modus pernikahan demi mendapatkan status kewarganegaraan.