Masyarakat Desak Tes PCR Penerbangan Dihapus

(Berita Terpercaya) – Masyarakat mendesak penghapusan tes PCR virus Corona sebagai persyaratan terbang. Alasannya, penularan Covid-19 di pesawat relatif rendah.
Salah satu orang yang bersuara soal tes PCR adalah dr Tirta melalui akun Twitter-nya, @tirta_cipeng. Tirta mendorong agar swab PCR menjadi alat diagnosis dan screening hanya menggunakan swab antigen.
“Kembalikan fungsi swab PCR menjadi alat diagnosis. Cukup screening antigen saja. Karena, agak aneh aja, kenapa hanya naik pesawat yang diwajibkan swab PCR. Padahal, sudah beberapa sumber ilmiah yang menekankan justru penularan di pesawat itu paling rendah,” tulis dr Tirta di akun twitter -nya, Sabtu (23/10/2021).
Sementara, menurut penelitian dari International Air Transport Association (IATA), kemungkinan tertular Covid-19 di pesawat malah lebih kecil ketimbang tersambar petir. Dengan hanya 44 kasus di antara 1,2 miliar penumpang, itu berarti 1 dari setiap 27 juta penumpang.
Tirta juga membandingkannya dengan bioskop, yang hanya perlu vaksin dua kali. Padahal risiko penularan di bioskop tinggi.
“Bahkan bioskop, yang risiko penularannya lebih tinggi sudah dibuka, cukup vaksin dua kali dan Pedulilindungi. Sementara pesawat kudu PCR. Saya yakin netizen juga udah paham ini. Harusnya pemangku kebijakan nggak ACC kebijakan terbang harus swab PCR dulu, cukup swab antigen,” tuturnya.
Dia juga membandingkan kebijakan PCR ini dengan transportasi darat. Dia mendorong agar kebijakan ini segera direvisi.
Komunitas Projo juga meminta syarat kewajiban tes PCR virus Corona (Covid-19) sebagai syarat penerbangan dihapus. Sebab, sudah ada vaksinasi Covid-19 yang masif.
“Projo aktif melakukan percepatan dan perluasan vaksinasi gratis untuk rakyat. Tapi, kami kecewa dengan kewajiban tes PCR,” kata Ketua Satgas Gerakan Nasional Percepatan Vaksinasi Covid-19 DPP PROJO, Panel Barus dalam pernyataannya, Sabtu (23/10/2021).
Menurut Panel Barus, banyak masyarakat yang mempertanyakan soal efektivitas tes PCR jika dikaitkan dengan vaksinasi. Kemudian, status vaksinasi pun bisa diakses melalui aplikasi PeduliLindungi.
“Mereka bertanya, kalau sudah divaksin kok masih harus tes PCR. Satgas Covid-19 harus bertindak cepat,” ujar Panel Barus.
Panel merasa, bukti telah divaksin di PeduliLindungi sudah cukup bagi masyarakat. Tidak perlu diperberat dengan PCR yang biayanya tidak bisa dibilang murah.
Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menjelaskan tes PCR digunakan karena merupakan metode testing yang paling sensitif.
“PCR sebagai metode testing yang lebih sensitif dapat mendeteksi orang terinfeksi lebih baik daripada rapid antigen, sehingga potensi orang terdeteksi untuk lolos dan menulari orang lain dalam setting kapasitas yang padat dapat diminimalisasi,” ujar Wiku kepada wartawan, Jumat (22/10/2021).
Wiku mengatakan syarat tes PCR diberlakukan mengingat tidak lagi diterapkannya seat distancing di dalam pesawat. Sehingga, diperlukan adanya screening test yang lebih akurat.
“Kapasitasnya dinaikkan dari 70 persen menjadi 100 persen. Maka, untuk memastikan mereka yang bepergian dalam keadaan sehat, dipastikan dengan screening test yang lebih akurat,” dalih Wiku. (*/dtc)
Foto : antara