Media Sosial Bawa Dampak Kebanjiran Berita di Masyarakat

[Berita Terpercaya] Dampak kebanjiran berita seakan tidak bisa dibendung lagi dengan kemajuan dan perkembangan media-media sosial. Informasi dan berita menjadi begitu cepat tersaji bahkan  seringkali juga mengesampingkan segi akurasi.

Fenomena tersebut menurut Presiden Joko Widodo, diakui memang menambah beban pemerintah. Berdasarkan laporan dari cnnindonesia.com, tak ada yang bisa mengontrol penggunaan media sosial. Oleh karena itu perlakuan terhadap media sosial pun harus dibedakan dengan media arus utama.

Dilaporkan juga oleh cnnindonesia.com, bahwa Jokowi menyampaikan pernyataan terkait media sosial tersebut saat memberikan sambutan dalam acara Hari Pers Nasional 2017. Acara tersebut diadakan di Ambon, pada Kamis (9/1).

Menurut Jokowi negara-negara lain juga mengalami hal yang sama sehubungan dengan dampak penggunaan media sosial. Hal tersebut ternyata juga ia dengar dari perdana menteri dan presiden negara lain yang ia temui.

Adanya digitalisasi komunikasi menurut Jokowi, mendorong setiap orang mampu memproduksi informasi maupun berita melalui media sosial. Menurutnya, media sosial hanya memiliki keunggulan dalam sisi kecepatan, namun materi dan akurasinya tidak mendalam.

baca >>> Facebook Berencana Rilis Video Edukasi Terkait Prinsip-Prinsip Privasi

Dampak Kebanjiran Berita sebagai Akibat Digitalisasi Informasi

Jokowi melihat bahwa semua negara mengalami apa yang disebutnya dengan kebanjiran berita. Baik itu obyektif maupun yang bohong dan bikin gaduh bahkan sampai mengancam persatuan bangsa.

Namun demikian ia juga meyakini bahwa hal tersebut dapat membuat Indonesia tahan uji. Selain itu ia juga berkeyakinan bahwa media arus utama akan tetap terus bertahan, betapapun terus digempur cepatnya pemberitaan melalui media sosial.


kebanjiran berita