Melepas 7 Hari “Kepergian” Umbu, Sastrawan Deklarasikan Museum Sastra Yogyakarta

(Berita Terpercaya) – Penyair asal Sumba, NTT, Umbu Landu Paranggi, pendiri Persada Studi Klub (PSK) telah wafat pada 6 April 2021 di Bali. Murid, sahabat almarhum serta sejumlah jurnalis dan sastrawan memperingati tujuh hari kepergian Umbu, Senin (12/4/2021) siang di Jogja Library, Malioboro, Yogyakarta.

Selain dari kalangan sastrawan dan seniman seni pertunjukan, hadir pula politisi, pengusaha, dan pimpinan koperasi DIY. Mereka menyampaikan testimoni, baca puisi, dan mendeklarasikan berdirinya Museum Sastra Yogyakarta.

Penyelenggara kegiatan Sigit Sugito dari Koperasi Seniman Yogyakarta (Koseta) mengatakan sosok Umbu memiliki pengaruh besar dalam pertumbuhan dan perkembangan kepenyairan di Yogyakarta dan juga Indonesia. Pada saat mengelola rubrik sastra di mingguan Pelopor Yogya, Umbu mempunyai intuisi yang hebat terkait suasana dan atmosfer saat itu, era 1967-1975. Umbu menjadikan Malioboro sebagai ruang kontemplasi di tengah gemuruh isu dan intrik politik serta dalam perkembangannya kemudian sebagai pusat bisnis serta ruang kapitalis. Malioboro dijadikan ruang dialektika penyair, mahasiswa, dan warga Yogya serta dari berbagai penjuru.

“Kita tak boleh menafikan bahwa di Jogja ada detak jantung Malioboro. Hanya puisi dan kata-kata itu yang masih bermakna waktu dulu sampai hari ini,” ucapnya seraya mengajak redaksi Berita Terpercaya menaiki anak tangga Jogja Library yang dulu digunakan Umbu sebagai kantor redaksi Pelopor Yogya.

Para pembaca puisi dan testimoni disampaikan para penyair, jurnalis, seniman aktor, politisi, pengusaha, pengurus koperasi, dan mahasiswa. Mereka antara lain, Sutirman Eka Ardana, Suparno S Adhy, Eko Winardi,  Krisma, Helen Purnika,  STP, MSi (Kasi Kelembagaan dan Bidang Koperasi), Afnan Hadikusumo, Aning Yudhi, Harmono, Bambang KSR, Menik Suwarno Pragolopati, Agus Istianto,  Dewo PLO, Tetya Alma, MN Wibowo, dan Syahbenol Hasibuan.

Pada kesempatan itu, Odi Shalahuddin yang banyak mengarsip berita dan foto PSK mengilustrasikan tempat sastrawan yang tergabung dalam PSK berproses bersama Umbu, antara lain di balkon dan sudut gedung perpustakaan serta bekas kamar kos yang disewa Umbu berada di sebelah gedung itu yang sekarang dipakai untuk pertokoan.

Salah satu sahabat Umbu yang turut mendirikan PSK, Soeparno S Adhy mengilustrasikan kegiatan kreatif mereka di era 1967 hingga 1975. Juga, asal-usul gelar “Presiden Malioboro” untuk Umbu yang kali pertama dicetuskan oleh pelukis Hardi saat mereka menghadiri Pertemuan Sastrawan Indonesia di Jakarta saat itu.

“Menjelang peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari 1974) Umbu bersama beberapa mahasiswa dari Yogya juga pernah ikut pertemuan dengan Presiden Soeharto. Waktu itu Umbu mengusulkan penurunan Jaksa Agung Soegih Arto. Ternyata tuntutan Umbu dipenuhi Pak Harto,” ungkapnya.

Sementara Menik, isteri mendiang Ragil Suwarna Pragolapati menyampaikan bahwa pada hari bersamaan mereka menggelar acara tersebut, sastrawan dan sahabat Umbu di Bali sedang memakamkan jenazah Umbu.

Mereka kemudian mendeklarasikan berdirinya Museum Sastra Yogyakarta dengan ditandai pemberian nama “Selasar Umbu” di depan Jogja Library sebagai upaya mengabadikan nilai-nilai, etos, dan spirit kreatif yang digelorakan sastrawan PSK di masa silam. (sar)