Polda Jatim Bekuk Dua Pemalsu Website Pemerintah AS, Curi Data 30 Ribu Warga AS

(Berita Terpercaya) – Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) membekuk dua tersangka pembuat dan penyebar website palsu (scampage) Pemerintah Amerika Serikat (AS). Kedua tersangka, Shofiansyah Fahrur Rozi dan Michael Zeboth Melki Sedek Boas Purnomo, menggunakan website untuk mencuri data sebanyak 30 warga AS. Mereka mengantongi uang ratusan juta rupiah per bulan.

Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta mengatakan ada tiga kejahatan yang dilakukan pelaku yang dilakukan sejak Mei 2020 hingga Maret 2021. Pertama, membuat website palsu. Kedua, menyebarkan website palsu.  Dan, ketiga mencuri data milik warga AS.

Modus pemalsuan website untuk mencuri dana bantuan pandemi Covid-19 milik Pemerintah AS dengan keuntungan yang diterima tersangka sebesar USD 30 ribu atau senilai Rp 420 juta. Semua korban warga AS dengan lokasi aksi kejahatan di Indonesia.

Direktur Reskrimsus Polda Jatim Kombes Farman mengatakan dalam sebulan, pelaku rata-rata mengantongi keuntungan hingga USD 30 ribu atau Rp 420 juta per bulan. Sedangkan untuk tersangka lainnya, mendapat uang Rp 60 juta selama menjalankan aksinya.

“Untuk SMR dia menerima uang kurang lebih 30 ribu USD rata-rata per bulan. Kita tahu mereka melakukan aksinya dari Mei 2020,” kata Farman di Surabaya, Kamis (15/4/2021).

Keuntungan yang didapatkan tersangka, lanjut Farman, berupa mata uang Krypto Bitcoin yang bisa dikonversikan menjadi mata uang Rupiah yang diberikan oleh seorang WNA dari India yang masih buron.

Farman mengatakan uang ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pelaku. Namun, ada juga yang digunakan untuk liburan dan ke tempat hiburan.

“Keuntungan yang telah diterima oleh SFR selama melakukan perbuatan tersebut kurang lebih sebesar 30.000 USD sekitar Rp 420 juta yang digunakan tersangka untuk berlibur, membayar hutang dan ke tempat hiburan,” papar Farman.

Dalam kasus ini, polisi mengamankan sejumlah barang bukti. Mulai dari laptop, handphone hingga beberapa kartu ATM milik pelaku. Sedangkan tersangka melanggar pasal 35 Jo Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo Pasal 55 ayat (1) KUHP dan Pasal 32 ayat (2) Jo Pasal 48 ayat (2) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo Pasal 55 ayat (1) KUHP. (*/dtc)

Foto : jatimnow.com