rentetan bom di surabaya

Keterkaitan Ledakan di Sidoarjo dan Rentetan Bom di Surabaya

[Berita Terpercaya] Polisi menemukan keterkaitan antara ledakan di Sidoarjo dengan rentetan bom di Surabaya. Anton Febrianto (47) yang tewas karena bom rakitannya sendiri di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo diketahui adalah teman dekat dalang pengeboman tiga gereja di Surabaya.

Perakit bom tersebut dilaporkan tewas dalam keadaan memegang saklar bom di tempat tinggalnya. Ia diduga merencanakan aksi teror selanjutnya pasca teror di tiga gereja dalam rentetan bom di Surabaya. Namun bom yang ia rakit tersebut justru meledak lebih dulu di tempat tinggalnya karena kecelakaan.

Anton dan Dita, selaku dalang pengeboman di Surabaya, dilaporkan memiliki hubungan sebagai teman dekat. Demikian informasi tersebut dikemukakan Kapolri Tito Karnavian sebagaimana informasi ini dilansir dari BBCIndonesia.com.

Tito juga menambahkan, berdasarkan olah TKP di Sidoarjo, polisi menemukan sejumlah bom pipa. Sementara bom yang meledak di Surabaya memiliki kemiripan dengan bom dari TKP di Sidoarjo tersebut.

Bom tersebut menurut Tito merupakan jenis bom dengan Triaseton Triperoksida (TATP) sebagai bahan peledaknya. Daya ledaknya diketahui memang luar biasa sehingga sering disebut sebagai ‘Mother of Satan’. Adapun bahan peledak tersebut juga merupakan bahan yang sering digunakan ISIS baik itu di Irak maupun di Suriah.

Kelemahan dari bom tersebut adalah senyawanya kurang stabil, sehingga dapat meledak meski tanpa detonator. Hal tersebutlah yang diduga terjadi di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo.

baca: Terkait Bom Surabaya, Beberapa Negara Terbitkan Imbauan Perjalanan

Motif Serangan Rentetan Bom di Surabaya

Disebutkan pula oleh Tito bahwa rentetan serangan bom di Surabaya merupakan bentuk balas dendam atas ditangkapnya Aman Abdurrahman, pemimpin Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Ditambah lagi, Polri juga telah melakukan penangkapan terhadap pemimpin JAD cabang Jawa Timur, Zaenal Anshari.

Aman ditangkap karena diduga keras memiliki keterlibatan dengan perencanaan kasus bom Thamrin di Jakarta pada 2016. Sementara Zaenal ditangkap karena dugaan penyelundupan senjata api dari Filipina selatan ke Indonesia pada enam bulan lalu.

Kondisi itulah yang diduga membuat kelompok-kelompok jaringan JAD di Jawa Timur memanas sehingga berkeinginan untuk melakukan pembalasan. Demikian hal itu diungkap Tito.