Satu Pena Gelar RLBA, Putuskan Pengurus Hasil Kongres Solo Demisioner

(Berita Terpercaya) – Penulis yang tergabung dalam Perkumpulan Penulis SATUPENA (Persatuan Penulis Indonesia) menggelar Rapat Luar Biasa Anggota (RLBA), Minggu (1/8/2021) secara virtual. Pertemuan melalui aplikasi Zoom Meeting berlangsung sejak pukul 10:00 WIB hingga 16:00 WIB itu dihadiri 96 anggota dan 15 orang yang mewakilkan lewat surat kuasa. RLBA menghasilkan keputusan penting dan strategis bagi organisasi. Keputusan tersebut dibahas secara musyawarah dan disepakati bersama dalam suasana yang akrab dan penuh tanggung jawab.
Keputusan strategis yang dimaksud adalah, pertama, RLBA Satupena tidak menerima Laporan Pertanggujawaban (LPJ) Pengurus karena pengurus, dalam hal ini Ketua Umum Satupena hasil Kongres Pertama Solo, Nasir Tamara, tidak hadir. Untuk penyelesaian lebih lanjut LPJ ini akan dibentuk tim khusus dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Kedua, RLBA Satupena telah menerima, dan disepakati seluruh peserta rapat, Perubahan Anggaran Dasar (AD). Perubahan yang akan disahkan dalam waktu dekat ini juga mencantumkan poin penting, yaitu kepengurusan yang baru akan bersifat kolektif kolegial.
Keputusan ketiga, karena sejak RLBA ini kepengurusan Satupena hasil Kongres Solo dinyatakan demisioner, maka roda organisasi dialihkan kepada Caretaker RLBA Satupena hingga kepengurusan baru terbentuk pada RLBA lanjutan.
Rapat pembahasan mengenai perubahan Anggaran Dasar yang dipimpin Prof S. Margana ini juga menyatakan, RLBA akan dilanjutkan pada pekan depan, tepatnya, Minggu 8 Agustus 2021.
Salah satu Pimpinan Sidang RLBA, Hikmat Darmawan menjelaskan, penyelenggaraan RLBA sebelumnya sudah dikomunikasikan kepada Pengurus Satupena hasil Kongres Solo. kemudian, terjadi dinamika internal. Meski demikian, caretaker yang sudah melaksanakan tugasnya melanjutkan RLBA, yang merupakan bagian dari Rapat Anggota, forum tertinggi organisasi yang sah, yang tercantum di dalam pasal 12 Anggaran Dasar (AD) yang disahkan notaris.
Meskipun sebelumnya banyak yang mempertanyakan adanya perubahan sebagian AD hasil Kongres Solo dengan AD yang kemudian disahkan notaris, para anggota Satupena yang kemudian menyatakan sebagai kelompok Satupena Peduli tetap berpegang pada AD yang berlaku.
Digelarnya RLBA Satupena ini, lanjut Hikmat, ibarat menembus jalan buntu. Sebab, sebelumnya rencana untuk menggelar Kongres kedua berjalan mulus, tapi menjelang persiapan akhir justru ada krikil dan penentangan.
Caretaker RLBA, Mardiyah Chamim, menjelaskan kronologi yang terjadi di Satupena menjelang Kongres dan berubah menjadi RLBA. Kronologi persoalan juga dijelaskan dalam surat tertulis yang disampaikan kepada pengurus Satupena hasil Kongres Solo dan dibagikan di WAG Satupena.
Kelompok Peduli Satupena mengirim surat permohonan kepada Badan Pengurus untuk penyelenggaraan RLBA. Surat dilampiri dukungan dari 100 lebih anggota, yang artinya melampaui 25% minimal yang disyaratkan AD.
“Dukungan dibuktikan dengan mengisi daftar kesediaan untuk ikut RLBA. Dalam realisasi, Minggu hari ini, hampir yang semua setuju RLBA benar-benar hadir. Sedangkan yang tidak hadir sebanyak 15 orang mewakilkan kepada anggota lain dalam bentuk surat resmi,” ucapnya.
Dalam RLBA yang berlangsung lebih dari 6 jam, semua peserta menginginkan agar Satupena berbenah dan menata diri, terutama terkait tata kelola keorganisasian yang menyangkut pula program kerja, dan keuangan perhimpunan. RLBA juga sepakat untuk membentuk tim rekonsiliasi menjembatani perbedaan pendapat dengan komunikasi yang lebih baik demi semakin memajukan Satupena. [*/sar]