Seniman dan Budayawan Reriyungan bersama Emha Ainun Nadjib

(Berita Terpercaya) – Sedikitnya seratus  seniman dan budayawan Yogyakarta menggelar temu kangen bertajuk Reriyungan, Minggu (21/11/2021) di Rumah Maiyah kediaman Emha Ainun Nadjib, Kadipiro, Yogyakarta. Perhelatan yang dipandu seniman ketoprak, Bayu Saptomo  tersebut dihadiri, antara lain Azwar AN, Fajar Suharno, Tertib Suratmo, Untung Basuki, Jemek Supardi, dan lainnya. Tidak terkecuali, Sitoresmi Prabuningrat dan juga komedian Marwoto.

Aneka ragam rasa bercampur di tengah-tengah perhelatan. Haru, gembira, dan perasaan lainnya, pun diungkapkan mereka. Sitoresmi misalnya, mengenang masa lalunya yang pernah  mengalami kesulitan ekonomi. Sehingga, untuk makan pun tak ada uang. Alhasil, ia terpaksa menjual kain korden ke pasar Beringharjo.

“Saya bungkus korden dengan kertas koran. Saya bawa ke Pasar Beringharjo. Tapi, karena ada banyak bekas tusukan paku, harganya yang sebenarnya bisa lima belas ribu, akhirnya hanya laku dua ribu rupiah. Ya, sudah, terpaksa saya terima, daripada nggak makan,” kenangnya.

Pada kesempatan itu, ia berharap Cak Nun (panggilan akrab Emha Ainun Nadjib – red) bisa turut memikirkan kondisi seniman yang masih kesulitan ekonomi di masa lanjut usianya.

Sementara, Marwoto yang tampil terakhir juga mengenang masa lalunya yang penuh keprihatinan. Dikisahkannya, saat ia bermain bersama seniman ketoprak tobong. Pada saat menetap di satu tempat, mereka dituntut tetap survive sementara tidak ada uang. Akhirnya, Marwoto mencabut batang ketela pohon milik petani yang terdekat dengan lokasi tobongnya. Setelah singkongnya dipetiki dari batangnya, pohon singkong itu ditanam kembali.

“Sehari – dua daunnya masih segar. Setelah ganti hari, daun pohon itu kelihatan layu. Jadi, pengalaman Jeng Sito tadi belum seberapa. Masih lebih menyedihkan saya, kan?” urai Marwoto diiringi derai tawa.

Di sela-sela obrolan dan cerita kenangan, acara tersebut juga dimeriahkan dengan pembacaan naskah  monolog Eko Winardi yang membacakan karyanya, “Kucing Mengajari Burung Terbang” dan juga lagu dari puisi “Apa Ada Angin di Jakarta” karya Umbu Landu Paranggi yang dibawakan Emha Ainun Nadjib. Penampil lainnya,  antara lain Untung Basuki dengan musik puisinya dan  Jemek Supardi dengan permainan pantomimnya. (sar)