Salah Satu Pendiri WhatsApp, Turut Marakkan Tagar #deleteFacebook di Twitter.

[Berita Terpercaya] Kejatuhan Facebook saat skandal besar yang melilit terkait kampanye untuk Trump, membuat banyak tokoh industry teknologi angkat bicara. Salah satu di antara mereka adalah penerima manfaat terbesar dari kesuksesan Facebook.

Brian Acton, langsung melompat ke atas karena cuitannya pada tagar #deleteFacebook di Twitter yang sempat menjadi ngetren pada Selasa malam (20/3). Lewat cuitan pendeknya, Acton dilaporkan Quartz Media langsung menjadi tren.

 

Bersama dengan co-founder Jan Koum, Acton menjual WhatsApp ke Facebook pada tahun 2014 seharga $ 19 miliar. Kesepakatan itu juga diketahui telah membuat Acton menjadi sangat kaya, versi Forbes.

Acton, sebagaimana dilaporkan Quartz Media yang pada tahun ini membantu mendanai Yayasan Sinyal, (lembaga nirlaba yang berafiliasi dengan Signal), membuat tulisan pada blog milik Yayasan tersebut. Menurutnya, bahwa perlindungan data dan privasi adalah sangat penting. Tidak hanya terbatas untuk orang terpilih di negara tertentu. Perlindungan data dan privasi sangat penting bagi semua orang dari semua lapisan masyarakat di berbagai belahan dunia.

berita terkait  >>> Facebook Berencana Rilis Video Edukasi Terkait Prinsip-Prinsip Privasi

Maraknya Tagar #deleteFacebook

Tagar #deleteFacebook di twitter berkembang menyusul laporan terperinci New York Times (paywall) dan Observer. Laporan tersebut mneyebutkan tentang bagaimana Cambridge Analytica, sebuah firma analisis data yang didirikan oleh Steve Bannon, bisa memperoleh data dari 50 juta profil Facebook.

Cambridge Analytica juga diketahui bekerja dengan peneliti yang merilis aplikasi kuis kepribadian untuk 270.000 peserta di Facebook. Perusahaan menggunakan data ini untuk mengembangkan strategi media sosial untuk membantu kampanye Donald Trump untuk menjadi presiden.

Adanya laporan itu, membuat Facebook kehilangan $ 50 miliar pada bursa saham. Selanjutnya regulator AS dan Inggris juga memeriksa tindakan Facebook tersebut. Terkait hal itu, Facebook mengklaim telah menyewa pihak ketiga untuk melakukan audit forensik atas penggunaan data Cambridge Analytics.


togel terpercaya