Terdampak Covid-19, 40 Persen UMKM Terancam Berhenti

(Berita Terpercaya) – Pandemi Covid-19 yang timbul sejak awal Maret 2020 di Indonesia menimbulkan dampak pada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Tidak kurang dari 40 persen UMKM terancam berhenti beroperasi.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Teten Masduki, mengungkapkan pelaku UMKM di Indonesia saat ini mencapai 59,2 juta usaha. Data dari survei beberapa lembaga mencatat angka 40 persen yang terancam berhenti beroperasi mencapai 23,68 juta usaha.

“Dari survei April 2020 diperoleh data 43 persen UMKM akan berhenti beroperasi. Lalu, survei dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Padjadjaran datanya hampir sama 47 persen UMKM di Jawa Barat sudah berhenti,” kata Teten pekan lalu.

Ditambahkan Teten, apabila dirata-ratakan dengan survei lain, yakni 40 persen UMKM yang akan berhenti.

Meski terjadi kelumpuhan dalam sektor usaha UMKM, namun kondisi akibat pandemi virus Corona berbeda dengan kondisi lumpuhnya ekonomi pada 1998, di mana saat itu UMKM masih bisa bertahan.

Menurut Teten, pemulihan ekonomi Indonesia bisa cepat pulih melalui upaya mendorong dan membantu sektor UMKM. Pasalnya, mayoritas pelaku usaha di Indonesia adalah pelaku usaha di sektor UMKM dengan kisaran porsi mencapai 97 persen. Selain itu, UMKM juga menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 60 persen.

Sedangkan bagia UMKM yang masih mampu bertahan adalah UMKM yang mampu melihat peluang, dengan melakukan inovasi. Misalnya, mereka banting setir memproduksi beberapa barang dan kebutuhan yang sedang tumbuh, seperti kebutuhan bahan pokok, makanan, dan alat pelindung diri (APD).

Selain itu, UMKM berbasis teknologi digital dan transaksi online, seperti terhubung dengan marketplace online akan mengalami peningkatan. Namun, jumlah UMKM yang sudah terhubung dengan marketplace baru 13 persen atau 8 juta pelaku usaha. Sisanya yang masih sangat besar, yaitu 87 persennya masih offline.

“Saat ini waktu yang tepat untuk UMKM bertranspormasi dari penjualan yang offline menjadi online,” ucapnya.

Sementara itu,, bagi Ultra mikro yang tidak mendapatkan bantuan relaksasi secara langsung oleh pemerintah karena tidak terdaftar, pelaku usaha ultra mikro bisa dibantu melalui bantuan sosial (bansos), supaya bisa memperkuat atau mempertahankan daya beli di masyarakat.

“Sebagian besar yang diultra mikro karena demand-nya sudah menurun. Mereka  sudah tidak punya usaha. Ini kita akan kelompokkan mereka dalam kelompok miskin baru dan kita dorong ke program bansos,” pungkasnya. (*/dtc)

Foto instagram @jokowi