Tiga Bulan Ditutup, Penambang Pasir Tak Ada Pendapatan

(Berita Terpercaya) – Erupsi Gunung Merapi dirasakan dampaknya oleh para penambang pasir. Para pemilik beghu dan alat berat lainnya terpaksa memindah alat berat itu ke lokasi yang lebih aman agar terhindar dari ancaman banjir lahar dan awan panas. Sementara para pekerja masih bisa bertahan, mengambil pasir dan batu di bagian hulu sungai.

Salah satu pekerja tambang, Tami, warga Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Sleman mengeluh tidak bisa lagi menangguk pendapatan akibat erupsi. Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemprov DIY) menutup semua aktivitas penambangan dan pariwisata di hulu atau lereng Merapi.

Wis telung sasi aku ora ana dhuwit. Ora wani arep nambang. Wedi kena wedhus gembel (Sudah tiga bulan saya tak pegang uang. Tak berani menambang pasir. Takut awan panas – red),” ucapnya, Senin (18/1/2021) kepada tetangganya.

Dalam tiga bulan terakhir Tami terpaksa hidup dengan gali lubang tutup lubang. Namun, hari itu Tami beruntung karena tetangganya memberinya uang. Jadi, ia tidak perlu mengembalikannya.

Berbeda dengan Poniman, penjual makanan di lokasi tambang pasir, relatif tidak terpengaruh adanya erupsi dan status Siaga (level III) Merapi. Dagangannya tetap laris dan mendapatkan pembeli yang sebagian besar para pekerja tambang pasir di hulu Sungai Gendol. Bahkan, ia mengalami kenaikan pendapatan hingga 20 persen.

“Beghu dan semua alat berat memang sudah tak beroperasi tiga bulan ini. Tapi, pekerja tambang manual masih bekerja. Dagangan saya tetap ada pembelinya. Ada kenaikan dua puluh persen,” ujarnya. (sar)

Foto : antara