Topeng Mentaok di Mata Aktor, Sastrawan, dan Peneliti

(Berita Terpercaya)  – Tiga aktor teater,  Joko Kamto, Nining Maharani, dan Eko Winardi  membuka acara bedah buku Topeng Mentaok karya Bayu Saptomo dengan sebuah mini fragmen. Mereka membincangkan tentang latar belakang dan sejarah berdirinya Kerajaan Mataram pasca-Pajang.  Setelah membaca penggalan dari bagian cerita, mereka merangkum keberadaan Mataram sebagai nunggak semi dari Majapahit sedangkan Keraton Yogyakarta sebagai nunggak semi dari Mataram dan merupakan kiblat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sementara sesi bedah buku menghadirkan narasumber sastrawan Budi Sardjono dan peneliti sastra budaya Jawa Dhanu Priyo Prabowo serta pengarang novel Bayu Saptomo dengan moderator Latief Setia Nugraha.

Budi Sardjono menilai Bayu memanfaatkan konvensi penceritaan seni pertunjukan tradisional Jawa, yaitu ketoprak, antara lain dalam penyusunan alur dan sumber cerita berlatar sejarah. Hal  tersebut juga merupakan dunia yang ditekuni Bayu sebagai pemain ketoprak. Namun, tatkala model penceritaan tersebut dipakai  ke dalam cerita novel, maka  berisiko ceritanya kurang kuat jika disandingkan dengan fakta  riilnya. Ia juga menyayangkan Bayu kurang riset.

Sementara menurut Dhanu, penulisan novel yang bersifat fiksional memang berbeda dengan penulisan sejarah yang bersifat faktual. Bayu dalam penceritaan justru filmis, berbeda dengan pengaluran dan penceritaan ketoprak.

Bincang-bincang buku tersebut menjadi bagian dari even bulanan Sastra Bulan Purnama ke-122 di Rumah Budaya Tembi, Sabtu (13/11/2021) sore. Acara tersebut juga dimeriahkan pertunjukan musik puisi karya Fauzi Absal, Marjuddin Sueb, dan Sunardian Wirodono oleh ilustrator dan perupa Vincencius Dwimawan. Sejumlah seniman senior turut hadir dalam acara tersebut, antara lain Fajar Suharno, Maria Kadarsih, dan lainnya. (sar)