Wasit Bulutangkis Olimpiade Tokyo 2020 dari Gunungkidul

(Berita Terpercaya) – Salah satu hal yang tidak menjadi perhatian khalayak dari sebuah pesta olahraga dunia, seperti Olimpiade Tokyo 2020, adalah wasit. Padahal, peran wasit tergolong vital karena mustahil sebuah even olahraga berjalan tanpa peran wasit.
Nah, yang unik dan menarik dari cabang olahraga bulutangkis adalah salah satu wasit berasal dari
Gunungkidul, DIY. Namanya Wahyana (53).
Wahyana memimpin jalannya laga pamungkas tunggal putri Olimpiade Tokyo 2020. Ia sebagai umpire atau wasit utama.
Wahyana merupakan guru pengampu mata ajar olahraga di SMP Negeri 4 Patuk, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, DIY.
Wahyana menekuni profesi sebagai wasit mulai 1998 setelah ia berhenti dari aktivitasnya sebagai pemain voli. Wahyana merintisnya dari menjadi hakim garis dalam setiap pertandingan badminton hingga 2000.
“Saya juga ikut ujian kompetensi dengan hasil terbaik. Kemudian dikembangkan lagi di tingkat nasional dan Asia. Nah, di tingkat nasional A saya mendapatkan capaian terbaik,” katanya saat dihubungi wartawan, Selasa (3/8/2021).
Selanjutnya Wahyana dikirim mengikuti Asia Accreditation di Kuala Lumpur pada 2006 kemudian lanjut lagi Asia Certification di Johor.
Pria yang juga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum ini melanjutkan, hal tersebut membuat kemampuannya dalam memimpin pertandingan badminton terus berkembang. Bahkan, sampai akhirnya dia menjadi wasit yang diperhitungkan di kancah internasional.
“Dari situ saya kembali mengikuti BWF Accreditation dan mendapatkan sertifikasi atau lisensi tertinggi pada 2016,” katanya.
Debutnya di dunia perwasitan Badminton pun semakin diperhitungkan oleh kancah internasional. Jam terbang dalam mengikuti pertandingan juga semakin tinggi, hingga akhirnya dia didapuk menjadi umpire laga final badminton tunggal putri Olimpiade Tokyo 2020.
Wahyana merupakan satu-satunya wasit dari Indonesia yang dipercaya untuk memimpin jalannya pertandingan tim tunggal putri dalam memperebutkan medali emas. Ia salah satu dari 36 wasit yang pada cabor bulutangkis, selain juga sebagai satu-satunya wasit dari Indonesia di antara 11 orang dari Asia.
Sebenarnya tidak hanya kali ini saja Wahyana menjadi wasit dalam final kejuaraan, mengingat dia pernah memimpin pertandingan Badminton di SEA Games, Asean Games, Kejuaraan Dunia, Paralimpic, Piala Sudirman, Piala Thomas, World Tour Finals dan lainnya.
Bahkan, pria kelahiran September 1967 ini mengatakan, bahwa selama ini dirinya sudah tur ke-77 negara di dunia untuk memimpin pertandingan. Namun, menjadi wasit badminton di Olimpiade menjadi kebanggaan tersendiri baginya.
“Tentu ada sebuah kebanggaan tersendiri, sebab dalam final itu hanya dicari wasit terbaik dari seluruh yang ada, alhamdulillah,” kata Wahyana.
Terlepas dari hal tersebut, sebagai pengurus PBSI di Jakarta dia juga memiliki program mencetak wasit muda dari seluruh penjuru Indonesia. Menurut Wahyana, program itu perlahan mulai berjalan mengingat minat untuk menjadi wasit muda sudah mulai banyak.
Menurut Wahyana, banyak pihak yang berminat menjadi wasit tapi bahasa menjadi kendala. Saat ini ia merekrut yang memiliki basic bahasa Inggris. (*’dtc)
Foto dok. / istimewa